BeritaBogor.com - Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membawa tantangan lingkungan yang semakin mendapat perhatian. Selain membutuhkan listrik dalam jumlah besar, infrastruktur yang menopang teknologi tersebut juga memerlukan air untuk menjaga pusat data atau data center tetap berada pada suhu operasional yang aman.
Kebutuhan air menjadi semakin penting karena penggunaan AI berkembang cepat, sementara pembangunan data center terus berlangsung di berbagai negara.
Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal npj Clean Water mencatat, data center berkapasitas 1 megawatt (MW) yang menggunakan sistem pendinginan konvensional tertentu dapat memakai sekitar 25,5 juta liter air per tahun hanya untuk proses pendinginan.
World Economic Forum (WEF) juga menyoroti angka tersebut. Menurut lembaga itu, kebutuhan air sebuah data center berkapasitas 1 MW dapat setara dengan konsumsi air harian sekitar 300.000 orang.
Persoalannya bukan hanya seberapa banyak air yang dibutuhkan, tetapi juga lokasi pusat data tersebut dibangun. Penggunaan air dalam jumlah besar berpotensi menjadi persoalan ketika fasilitas berada di wilayah yang pasokan airnya sudah menghadapi tekanan.
Mengapa AI Membutuhkan Banyak Air?
Model AI modern membutuhkan kemampuan komputasi yang sangat besar. Ribuan hingga puluhan ribu prosesor dapat bekerja secara bersamaan ketika sebuah model dilatih maupun digunakan untuk melayani permintaan pengguna.
Aktivitas komputasi tersebut menghasilkan panas.
Semakin berat beban pemrosesan, semakin besar pula tantangan untuk mempertahankan temperatur perangkat keras agar tetap berada dalam batas aman. Karena itu, banyak data center menggunakan berbagai sistem pendinginan, termasuk teknologi yang memanfaatkan air.
Air dapat digunakan langsung pada sistem pendinginan pusat data. Selain itu, jejak air juga dapat muncul secara tidak langsung dari pembangkit listrik yang menyediakan energi untuk fasilitas tersebut.
Artinya, menghitung kebutuhan air AI tidak sesederhana menghitung air yang mengalir di dalam sebuah data center.
Jenis sistem pendinginan, lokasi fasilitas, temperatur lingkungan, sumber listrik hingga kondisi cuaca dapat membuat kebutuhan air antara satu pusat data dan pusat data lainnya berbeda secara signifikan.
WEF menilai persoalan air selama ini cenderung mendapatkan perhatian lebih kecil dibandingkan jejak karbon data center.
Padahal, pertumbuhan layanan digital dan AI membuat pengelolaan sumber daya air menjadi faktor penting dalam menentukan seberapa berkelanjutan industri pusat data di masa mendatang.
Satu Botol Air untuk Puluhan Respons AI
Besarnya jejak air AI juga pernah dihitung melalui penelitian terhadap GPT-3, model bahasa yang dikembangkan OpenAI.
Sebuah penelitian yang kemudian dipublikasikan di Communications of the ACM memperkirakan bahwa menghasilkan sekitar 10 hingga 50 respons berukuran sedang menggunakan GPT-3 dapat berkaitan dengan konsumsi sekitar 500 mililiter air, tergantung lokasi dan waktu sistem dijalankan.
Namun, angka tersebut bukan berarti setiap satu pertanyaan kepada AI otomatis menghabiskan setengah liter air.
Angka 500 mililiter merupakan hasil pemodelan untuk sejumlah respons dan memperhitungkan kondisi operasional tertentu. Besarnya konsumsi aktual dapat berubah berdasarkan efisiensi perangkat keras, sistem pendinginan, lokasi data center dan sumber energi yang digunakan.
Penelitian yang sama memperkirakan pelatihan GPT-3 di pusat data Microsoft di Amerika Serikat membutuhkan sekitar 5,4 juta liter air secara keseluruhan, termasuk sekitar 700.000 liter konsumsi air langsung di lokasi.
Temuan tersebut memberikan gambaran bahwa dampak lingkungan AI tidak hanya muncul ketika model sedang dilatih. Aktivitas harian ketika jutaan pengguna mengirimkan perintah dan menerima respons juga membutuhkan infrastruktur komputasi dalam skala besar.
Ketika jumlah pengguna AI terus bertambah, kebutuhan komputasi secara keseluruhan ikut meningkat.
Kebutuhan Air AI Diproyeksikan Terus Naik
Penelitian mengenai jejak air AI juga memproyeksikan kebutuhan air dalam skala global dapat meningkat tajam.
Salah satu skenario memperkirakan pengambilan air global yang terkait dengan AI dapat mencapai sekitar 4,2 hingga 6,6 miliar meter kubik pada 2027.
Angka tertingginya setara dengan sekitar 1,7 triliun galon.
Namun, angka tersebut perlu dibaca sebagai proyeksi water withdrawal atau volume air yang diambil dari sumber air dalam skenario penelitian, bukan berarti seluruh volume tersebut otomatis habis dikonsumsi.
Penelitian mengenai jejak air AI menunjukkan adanya tiga komponen utama yang perlu diperhitungkan, yakni penggunaan air langsung untuk pendinginan dan pengaturan kelembapan, penggunaan air tidak langsung dalam pembangkitan listrik, serta kebutuhan air dalam proses produksi perangkat keras seperti semikonduktor.
Besarnya kebutuhan tersebut membuat lokasi pembangunan data center menjadi faktor yang semakin penting.
Data center yang dibangun di wilayah dengan pasokan air melimpah dapat menghadapi kondisi yang berbeda dengan fasilitas serupa di daerah rawan kekeringan atau wilayah yang kebutuhan air masyarakatnya sudah tinggi.
Satu dari Empat Data Center Berada di Wilayah dengan Tekanan Air
Isu lokasi menjadi perhatian setelah sejumlah peneliti mulai memetakan hubungan antara keberadaan data center dan tekanan terhadap sumber daya air.
Analisis awal yang disampaikan Lorenzo Rosa dari Rosa Lab, Stanford University, terhadap sekitar 9.500 data center di seluruh dunia menunjukkan sekitar satu dari empat fasilitas saat ini berada di lokasi yang permintaan airnya melebihi pasokan lokal setidaknya pada sebagian periode dalam setahun.
Kajian tersebut juga menunjukkan Amerika Serikat menjadi rumah bagi porsi besar pusat data dunia, sementara sebagian fasilitas telah beroperasi di kawasan yang menghadapi tekanan terhadap sumber daya air.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan data center tidak hanya menjadi persoalan teknologi dan investasi.
Ketersediaan energi, sumber air, tata ruang hingga kebutuhan masyarakat sekitar kini ikut menjadi pertimbangan.
Data center pada dasarnya dapat menggunakan sejumlah teknologi untuk mengurangi penggunaan air tawar. Di antaranya menggunakan sistem sirkulasi tertutup, teknologi pendinginan yang lebih efisien serta memanfaatkan air hasil pengolahan limbah.
Pembangunan Data Center Mulai Picu Penolakan Warga
Pertumbuhan pusat data juga mulai menimbulkan respons dari masyarakat di sejumlah negara.
Kekhawatiran tidak hanya berkaitan dengan penggunaan air, tetapi juga dampak pembangunan fasilitas terhadap lingkungan dan kawasan permukiman.
Situasi tersebut terlihat mulai dari Amerika Utara hingga sejumlah wilayah Eropa. Persoalan serupa kemudian muncul di Asia Tenggara seiring berkembangnya kawasan tersebut sebagai tujuan investasi data center.
Malaysia menjadi salah satu contoh terdekat dengan Indonesia.
Negara itu berkembang cepat menjadi salah satu pusat pembangunan data center di Asia Tenggara. Johor menjadi salah satu kawasan yang paling banyak menarik investasi berkat kedekatannya dengan Singapura, ketersediaan lahan dan infrastrukturnya.
Namun, pembangunan fasilitas tersebut juga mulai mendapat pengawasan lebih besar dari masyarakat.
Warga Johor Gelar Protes
Pada 7 Februari 2026, lebih dari 50 warga berkumpul di sekitar proyek pembangunan data center di Gelang Patah, Johor.
Aksi tersebut disebut sebagai salah satu protes publik pertama di Malaysia yang berkaitan langsung dengan pesatnya pembangunan data center.
Para peserta aksi menyatakan mewakili hampir 1.000 warga dari empat kawasan perumahan di distrik Gelang Patah.
Fasilitas tersebut berada kurang dari satu kilometer dari permukiman terdekat dan dikembangkan untuk perusahaan asal China, ZDATA Technologies.
Warga mempersoalkan debu akibat aktivitas pembangunan dan meminta adanya jaminan serta kompensasi jika proyek menimbulkan dampak terhadap kesehatan mereka.
Selain masalah debu, kekhawatiran terhadap ketersediaan air juga menjadi salah satu isu yang disampaikan dalam aksi.
Para pengunjuk rasa kemudian membubarkan diri setelah sekitar 90 menit dengan pengawasan aparat kepolisian.
Beberapa hari setelah aksi tersebut, ZDATA menyampaikan tanggapan resmi. Perusahaan membantah bahwa fasilitasnya menjadi sumber utama pencemaran debu maupun berpotensi menyebabkan kekurangan pasokan air bersih.
ZDATA menyatakan sebagian besar pekerjaan konstruksi utama di area yang telah dikembangkan telah selesai dan menilai aktivitas yang tersisa hanya memberikan kontribusi minimal terhadap persoalan debu.
Perkembangan berikutnya menunjukkan pengelola fasilitas tersebut mulai menggunakan pendekatan alternatif terhadap kebutuhan air.
Dalam laporan Bernama beberapa bulan setelah demonstrasi, perwakilan warga mengatakan kekhawatiran terhadap pasokan air telah berkurang setelah mendapat penjelasan bahwa fasilitas ZDATA menggunakan air daur ulang atau air limbah yang telah diolah, bukan semata-mata mengandalkan air bersih untuk kebutuhan pendinginan.
Industri Data Center Mulai Mencari Alternatif
Tekanan terhadap penggunaan air membuat operator data center mulai mencari teknologi yang dapat mengurangi ketergantungan terhadap sumber air tawar.
Salah satunya adalah penggunaan air limbah yang sudah diolah.
Sistem tersebut memungkinkan air yang sebelumnya telah digunakan masyarakat diproses kembali hingga memiliki kualitas yang sesuai untuk kebutuhan industri dan pendinginan.
Selain itu, data center dapat menggunakan sistem pendinginan sirkuit tertutup yang memungkinkan air digunakan kembali dalam sistem, ataupun teknologi pendinginan kering yang lebih sedikit membutuhkan air.
Namun, setiap teknologi memiliki konsekuensi tersendiri. Sistem yang menghemat air, misalnya, dalam kondisi tertentu dapat membutuhkan energi lebih besar.
Karena itu, operator pusat data perlu mempertimbangkan keseimbangan antara efisiensi energi dan efisiensi penggunaan air.
WEF menilai pendekatan pengelolaan air secara sirkular dapat menjadi salah satu solusi penting bagi industri data center. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui pemulihan air, penggunaan kembali, optimalisasi pendinginan serta pemanfaatan sumber air nonpotabel.
Pertumbuhan AI Membawa Tantangan Baru
Lonjakan penggunaan AI membuat data center menjadi salah satu infrastruktur digital yang paling strategis saat ini.
Fasilitas tersebut memungkinkan layanan AI, komputasi awan, media sosial, layanan streaming hingga berbagai aktivitas digital beroperasi selama 24 jam.
Namun, pertumbuhan tersebut juga membuat dampak lingkungan pusat data semakin sulit dipisahkan dari perkembangan teknologi AI.
Selama ini perhatian terhadap teknologi digital lebih banyak berfokus pada konsumsi energi dan emisi karbon. Persoalan air kini mulai muncul sebagai komponen lain yang perlu diperhitungkan.
Tantangannya semakin besar ketika pembangunan data center terjadi di wilayah yang secara bersamaan menghadapi pertumbuhan penduduk, aktivitas industri dan perubahan iklim.
Karena itu, transparansi mengenai jumlah air yang digunakan, sumber air yang dimanfaatkan serta teknologi pendinginan menjadi semakin penting.
Pertumbuhan AI kemungkinan tidak akan berhenti dalam waktu dekat. Tantangan berikutnya adalah memastikan peningkatan kemampuan komputasi tersebut tidak menciptakan tekanan baru terhadap sumber daya air yang juga dibutuhkan masyarakat. (***)


